Cleisthenes
arsitek demokrasi yang memecah loyalitas kesukuan menjadi loyalitas warga
Pernahkah kita menyadari betapa mudahnya kita terbelah menjadi kubu "Kami vs Mereka"?
Mulai dari urusan sepele seperti pendukung bubur diaduk dan tidak diaduk, hingga urusan krusial seperti pilihan politik yang bisa membuat grup WhatsApp keluarga mendadak sunyi senyap. Fenomena ini terasa sangat modern, apalagi dengan adanya algoritma media sosial yang terus memanas-manasi kita. Tapi tahukah teman-teman, kecenderungan untuk berkelompok dan membenci kelompok lain ini sebenarnya adalah warisan evolusi yang sangat kuno.
Otak kita memang dirancang untuk menjadi tribalis atau kesukuan. Ini adalah survival mechanism. Di zaman purba, jika kita tidak berada dalam kelompok yang solid, kita akan mati kelaparan atau dimakan predator. Masalahnya, perangkat keras otak kita belum banyak berubah sejak zaman batu, sementara peradaban kita sudah jauh melesat. Kita masih membawa bug psikologis ini ke dunia modern.
Lalu, apakah kita dikutuk untuk terus terpecah belah dan bermusuhan?
Ternyata tidak. Sekitar 2.500 tahun yang lalu, ada seorang pria yang menyadari bug psikologis ini. Ia meretas sistem kognitif ribuan orang, mematikan loyalitas buta berbasis darah, dan melahirkan sebuah sistem yang kelak mengubah jalannya sejarah dunia. Namanya Cleisthenes. Dan cerita tentang bagaimana ia melakukan "peretasan otak" massal ini, mungkin adalah pelajaran paling penting yang kita butuhkan hari ini.
Sebelum kita terbang ke zaman Cleisthenes, mari kita bedah dulu apa yang terjadi di dalam tengkorak kita saat kita merasa menjadi bagian dari sebuah kelompok.
Dalam neurosains, ada hormon bernama oksitosin. Hormon ini sering disebut "hormon cinta" atau "hormon pelukan". Ia membuat kita merasa hangat, berempati, dan percaya pada orang-orang terdekat kita. Tapi, sains belakangan menemukan sisi gelap dari oksitosin. Hormon ini ternyata sangat diskriminatif. Ia meningkatkan empati kita hanya kepada anggota kelompok kita sendiri (in-group), dan secara bersamaan bisa meningkatkan kecurigaan bahkan agresi kepada kelompok luar (out-group).
Otak kita, tepatnya bagian amygdala, sangat cepat memproses ancaman dari mereka yang dianggap "berbeda". Inilah akar biologis dari nepotisme, rasisme, dan konflik politik garis keras.
Sekarang, mari kita bawa fakta biologis ini ke Athena kuno, sekitar tahun 508 Sebelum Masehi.
Lupakan bayangan kota Athena yang penuh filsuf bijak berbalut kain putih bersih. Athena pada masa itu berdarah, kacau, dan sangat tribalis. Kota itu dikuasai oleh empat suku besar yang saling sikut demi kekuasaan. Suku-suku ini terbentuk berdasarkan kedekatan geografis dan garis keturunan berabad-abad. Mereka yang tinggal di pesisir membenci orang-orang yang tinggal di pedalaman. Mereka yang di kota merendahkan kaum petani.
Politik di sana bukan tentang siapa yang punya ide terbaik, melainkan tentang "marga apa yang mendukungmu". Kedengarannya sangat familier, bukan?
Di tengah kekacauan yang nyaris menghancurkan Athena ini, muncullah Cleisthenes. Ia berasal dari salah satu keluarga elit yang paling dibenci, namun ia muak dengan siklus perang saudara yang tidak berkesudahan ini. Ia tahu, Athena butuh revolusi yang berbeda.
Cleisthenes dihadapkan pada sebuah teka-teki psikologis yang luar biasa rumit. Bagaimana caranya menyatukan orang-orang yang secara biologis dan kultural sudah dikondisikan untuk saling membenci?
Ia sadar betul bahwa pidato moral tentang "pentingnya persatuan" tidak akan mempan. Menyuruh orang melepaskan ikatan darahnya demi sebuah konsep abstrak bernama "negara" adalah hal yang mustahil. Orang Athena akan selalu memilih membela sepupunya dibanding tetangga dari suku lain, meskipun sepupunya itu salah. Itu adalah insting dasar manusia.
Jika Cleisthenes membiarkan struktur suku lama tetap berdiri, perang saudara hanya tinggal menunggu waktu untuk meledak lagi. Ia tidak bisa sekadar mengganti pemimpin; ia harus menghancurkan fondasi loyalitas itu sendiri tanpa menumpahkan darah.
Lalu, apa yang ia lakukan?
Cleisthenes mengambil sebuah peta Athena. Ia melihat batas-batas wilayah yang memisahkan kaum pesisir, kaum kota, dan kaum pedalaman. Di sinilah letak akar masalahnya. Loyalitas mereka mengakar pada tanah dan darah. Jadi, Cleisthenes merumuskan sebuah rencana absurd yang mungkin membuat politikus pada zaman itu menganggapnya gila.
Ia memutuskan untuk bermain Tuhan dengan identitas mereka. Ia akan melakukan sebuah manipulasi sosial besar-besaran yang memaksa otak warganya untuk mendefinisikan ulang makna kata "Kita".
Inilah plot twist brilian dari Cleisthenes.
Pertama, ia membubarkan empat suku kuno yang menguasai Athena. Hilang. Tamat. Sebagai gantinya, ia menciptakan sepuluh suku baru yang sepenuhnya artifisial atau buatan.
Namun, ia tidak membaginya begitu saja. Cleisthenes menggunakan sistem yang sangat jenius. Ia membagi wilayah Athena ke dalam unit-unit kecil seukuran desa yang disebut deme. Lalu, untuk membentuk satu suku baru, ia mengambil satu deme dari wilayah pesisir pantai, satu deme dari wilayah pusat kota, dan satu deme dari wilayah pedalaman pegunungan. Ketiga kelompok yang bermusuhan dan tidak saling kenal ini, dipaksa diikat menjadi satu suku baru.
Bayangkan jika hari ini kita menggabungkan seorang pekerja start-up di Jakarta Selatan, seorang nelayan di pesisir Maluku, dan seorang petani sayur di dataran tinggi Dieng, lalu memberi tahu mereka: "Mulai sekarang, kalian adalah satu keluarga."
Otak orang-orang Athena dipaksa melakukan senam kognitif yang luar biasa. Tiba-tiba, seorang aristokrat kota mendapati dirinya berada di suku yang sama dengan petani miskin. Mereka harus memilih perwakilan politik bersama. Mereka harus merayakan festival keagamaan bersama. Dan yang paling krusial, saat perang pecah, mereka harus bertempur di resimen militer yang sama. Nyawa sang aristokrat kini bergantung pada perisai sang petani.
Dalam psikologi modern, apa yang dilakukan Cleisthenes ini dikenal dengan Contact Hypothesis (Hipotesis Kontak). Ketika kelompok yang bermusuhan dipaksa berinteraksi dan bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama (superordinate goals), batas-batas psikologis di otak mereka akan melebur. Oksitosin yang tadinya hanya mengalir untuk anggota keluarga, kini meluas kepada rekan satu suku baru mereka.
Dengan satu peretasan sosial ini, Cleisthenes menghancurkan loyalitas kesukuan yang sempit dan menggantinya dengan loyalitas sipil. Identitas seseorang tidak lagi dinilai dari "Siapa bapakmu?", melainkan "Dari deme mana kamu berasal?". Sistem inilah yang menggeser kekuasaan dari tangan para elit ke tangan warga (demos).
Ia merancang sebuah sistem yang kita kenal sekarang dengan nama: Demokrasi (Demokratia).
Apa yang bisa kita pelajari dari sang arsitek demokrasi ini di abad ke-21?
Saat ini, kita hidup di era yang secara tragis perlahan-lahan bergerak mundur. Teknologi yang seharusnya menyatukan kita, justru menciptakan suku-suku digital baru. Algoritma media sosial mengurung kita dalam echo chambers atau ruang gema, di mana kita hanya berinteraksi dengan orang-orang yang satu pemikiran, satu agama, atau satu pilihan politik dengan kita. Otak kita kembali dimanjakan untuk membenci "mereka" yang berbeda di luar sana.
Kita kembali menjadi orang-orang Athena sebelum era Cleisthenes. Terkotak-kotak, penuh curiga, dan siap bertarung.
Mungkin, sudah saatnya kita mengadopsi cara berpikir Cleisthenes dalam kehidupan sehari-hari. Kita tidak bisa menghapus kecenderungan biologis otak kita untuk berkelompok, tapi kita bisa memperluas definisi tentang siapa yang termasuk dalam kelompok kita.
Mari kita melangkah keluar dari zona nyaman kita. Mari ciptakan "suku-suku baru" berbasis hobi, proyek kemanusiaan, atau kepedulian lingkungan yang mempertemukan kita dengan orang-orang dari latar belakang suku, agama, dan kelas sosial yang berbeda. Ketika kita bekerja sama dan tertawa dengan orang yang selama ini kita anggap "berbeda", di situlah otak kita sedang diretas ke arah yang lebih baik.
Cleisthenes membuktikan bahwa empati dan persatuan bukanlah sekadar jargon manis. Ia adalah sesuatu yang bisa dirancang, dilatih, dan dibangun. Sejarah telah menunjukkan bahwa kita bisa melampaui ikatan darah demi sesuatu yang lebih besar. Kini, giliran kita untuk membuktikannya lagi.